Menyuarakan Pendidikan Berbasis Cinta di Forum Global: Delegasi HIMMA Magister PIAUD UIN Sunan Kalijaga ikuti Seminar Internasional
Pengurus HIMMA tengah mengikuti seminar internasional
Perwakilan Himpunan Mahasiswa Magister Pendidikan Islam Anak Usia Dini (HIMMA PIAUD) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta turut berpartisipasi dalam diskusi global mengenai pendidikan karakter melalui kehadiran mereka pada seminar internasional bertajuk “Educating With Love: Honoring Every Child’s Uniqueness”. Kegiatan ini diselenggarakan pada Jumat, 13 Februari 2026, di Aula RUA Zainal Fanani, Kampus STPI Bina Insan Mulia (BIM) Yogyakarta.
Seminar tersebut menghadirkan pembicara utama Christopher Drake, Presiden Association for Living Values Education International (ALIVE). Dalam forum yang dihadiri akademisi, praktisi pendidikan, dan mahasiswa dari berbagai institusi ini, Christopher Drake menekankan urgensi pendidikan berbasis nilai (values-based education) sebagai fondasi pembentukan karakter anak di tengah kompleksitas tantangan global.
Delegasi Magister PIAUD UIN Sunan Kalijaga yang hadir adalah Zavira Nisa Awanda Mulyo dan Waviq S. Vadilla. Partisipasi keduanya mencerminkan komitmen mahasiswa pascasarjana dalam memperluas perspektif internasional serta memperdalam pendekatan pendidikan yang berpusat pada anak (child-centered learning) dan berakar pada nilai-nilai kemanusiaan universal.
Dalam pemaparannya, Christopher Drake—yang merupakan alumnus Oxford University—menegaskan bahwa setiap anak membawa potensi, latar belakang, dan karakter unik yang perlu dihormati. Pendidikan, menurutnya, tidak cukup hanya berorientasi pada capaian akademik atau penyelesaian kurikulum, tetapi harus dilandasi kasih sayang, penghargaan terhadap keberagaman, serta kemampuan pendidik membangun relasi yang autentik dengan peserta didik. Pendekatan ini menempatkan cinta dan empati sebagai inti proses pembelajaran.
Lebih jauh, seminar ini menggarisbawahi bahwa pendidikan karakter tidak dapat dipisahkan dari keteladanan pendidik. Guru bukan sekadar fasilitator pengetahuan, tetapi figur moral yang menghadirkan rasa aman, penghargaan, dan penguatan kepercayaan diri anak. Dalam konteks pendidikan anak usia dini, pendekatan tersebut menjadi sangat relevan karena fase ini merupakan fondasi pembentukan identitas, regulasi emosi, serta nilai-nilai sosial anak.
Kehadiran Zavira dan Waviq dalam forum internasional ini diharapkan mampu membawa inspirasi dan perspektif baru bagi lingkungan akademik UIN Sunan Kalijaga, khususnya dalam pengembangan kurikulum dan praktik pembelajaran PIAUD yang lebih humanis, reflektif, dan adaptif terhadap kebutuhan emosional serta spiritual anak usia dini. Partisipasi ini juga membuka ruang jejaring akademik yang lebih luas, mempertemukan mahasiswa dengan praktisi pendidikan global dalam dialog yang konstruktif.
Seminar internasional tersebut tidak hanya menjadi ajang pertukaran gagasan, tetapi juga momentum penguatan visi pendidikan yang memuliakan setiap anak sebagai individu yang unik dan berharga. Melalui keterlibatan aktif dalam forum semacam ini, mahasiswa Magister PIAUD diharapkan semakin siap menjadi pendidik dan pemimpin pendidikan yang mampu mengintegrasikan keilmuan, nilai, dan kasih sayang dalam praktik profesional mereka.