Pentingnya Mengembangkan Kecerdasan Kinestetik pada Anak Usia Dini

Perkembangan fisik anak secara khusus berkaitan juga dengan kecerdasan jamak atau yang biasa disebut dengan multiple intelligences yang bertujuan untuk memecahkan masalah atau melakukan sesuatu yang ada nilainya dalam kehidupan (Sisca Rahmadonna, 2009: 197) dan perkembangan fisik itu sendiri termasuk dalam salah satu kecerdasan jamak yang ada yaitu kecerdasan kinestetik.

Perkembangan fisik anak digolongkan ke dalam kecerdasan kinestetik karena kecerdasan kinestetik berkaitan dengan kemampuan yang dimiliki anak dalam menggunakan dan mengendalikan gerakan tubuh. Kecerdasan kinestetik tubuh mencakup kemampuan menyatukan tubuh dan pikiran dalam sebuah tampilan fisik yang sempurna. Salah satu upaya untuk meningkatkan kecerdasan kinestetik pada anak khususnya dalam hal keterampilan dapat dilakukan dengan kegiatan yang sangat menyenangkan untuk anak.

Kegiatan pembelajaran bagi anak usia dini dilakukan dengan cara yang menyenangkan hal ini bisa distimulasi melalui kegiatan bermain, karena pada dasarnya anak sangat senang bermain. Permainan yang dapat dilakukan yaitu salah satunya melalui permainan estafet kelereng dengan cara menjaga keseimbangan, focus, sedikit jongkok dan berjinjit. Dengan kegiatan estafet kelereng diharapkan anak akan melakukan kegiatan yang melibatkan otot-otot kasarnya dengan cara memberikan kelereng kepada teman yang menggunakan sendok, salah satu teman berjinjit dan satu teman lagi sedikit berjongkok. Kegiatan estafet kelereng, selain untuk meningkatkan kecerdasan kinestetik pada anak juga melatih ketepatan anak dalam menerima, megoper kelereng, focus dan menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh saat memberikan kelereng kepada teman.[1]

Anak yang memiliki postur tubuh yang terlalu gemuk, akan mengalami kesusahan dalam mengikuti strategi pembelajaran kinestetik, karena akan mengalami kesulitan dalam setiap gerakan badan. Kecerdasan kinestetik merupakan kemampuan dalam menyelaraskan pikiran dengan badan sehingga apa yang dikatakan oleh pikiran akan tertuang dalam bentuk gerakan-gerakan badan yang indah, kreatif, serta memiliki makna.[2]Disisi lain Gardner menyatakan bahwa kecerdasan kinestetik suatu kecerdasan yang memiliki hubungan dengan kemampuan dalam menggunakan tubuh, secara terampil dalam mengungkapkan suatu ide, gagasan, pemikiran serta perasaan. Pada kecerdasan ini mampu bekerjasama dengan baik dalam menangani serta memanipulasi objek. Dalam kecerdasan ini meliputi ketrampilan fisik pada bidang koordinasi, keseimbangan, daya tahan, kekuatan, kecepatan serta kelenturan. Pada kecerdasan ini biasanya terlihat pada seorang penari, actor, pemusik, pematung serta atlet.[3]

Seorang anak yang memiliki kecerdasan kinestetik juga memiliki keterampilan dalam mengkoordinasikan pikiran serta organ tubuh dalam berbagai bentuk gerakan yang memperkuat rasa percaya diri pada anak, oleh karena itu, dalam hati anak-anak atau peserta didik bahwa dirinya sanggup melakukan pekerjaan dengan hasil yang maksimal. Disisi lain perasaan tersebut akan mendorong seorang anak dalam melakukan berbagai aktifitas pembelajaran dengan penuh semangat, rasa senang serta bahagia. Bahkan, seorang anak tidak segan bisa memiliki rasa optimism keberhasilan terhadap segala usaha yang dilakukannya.[4]

Dalam hal ini terdapat bentuk kecerdasan kinestetik yang memungkinkan terjadinya kecerdasan antara pikiran serta tubuh yang diperlukan dalam berbagai kegiatan atau aktivitas seperti drama, olah raga serta menari, pada kecerdasan ini, kemampuan untuk mengolah tubuh serta melakukan pekerjaan yang membutuhkan ketrampilan anggota tubuh tertentu. Pada dasarnya seorang anak sejak lahir memiliki kemampuan tuntuk bergerak, oleh karena itu, kita sebagai tenaga pendidik harus memberikan kebebasan kepada peserta didik dalam bergerak serta adanya suatu pembelajaran khusus dalam mengatasi dalam ketidakaturan dalam proses gerak peserta didik, sehingga dapat mengarahkan anak untuk mengembangkan kecerdasan kinestetiknya.[5]

Terdapat pula komponen dalam kecerdasan kinestetik, dalam hal ini Amstrong menyatakan bahwa kecerdasan kinestetik merupakan kemampuan fisik yang spesifik, seperti keseimbangan, kelenturan, koordinasi, kekuatan, keterampilanserta kecepatan dalam hal kemampuan menerima rangsang(proprioceptive)serta hal yang berkaitan dengan sentuhan(tactiledanhaptic),disisi lain Amstrong juga menyatakan bahwa komponen inti juga meliputi kemampuan motoric halus (keterampilan tangan dan koordinaasi mata serta tangan) seperti kepekaan dalam sentuhan, daya tahan, serta daya reflek. Dalam hal ini, kemampuan inti dari kecerdasan kinestetik bertumpu pada kemampuan dalam mengendalikan gerak tubuh serta dalam menangani benda.[6]

Anak atau peserta didik yang memiliki kecerdasan kinestetik dapat terdeteksi melalui kemampuan yang dimiliki, dalam hal ini yang berhubungan dengan kelenturan tubuh seperti olahraga, dan menari. Untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki, anak-anak atau peserta didik peru diajak dalam melakukan kegiatan yang memerlukan gerakan tubuh agar kemampuan yang dimiliki dapat maksimal di kemudian hari.[7]

Dalam hal ini, kecerdasan kinestetik juga berhubungan erat dengan motoric, dengan demikian, motoric merupakan perkembangan pengendalian gerak tubuh melalui gerakan tubuh yang terkoordinasi antara susunan saraf, otak, dan otot, disisi lain, perkembangan motoric juga meliputi motorik kasar dengan motorik halus. Motoric kasar itu sendiri gerakan tubuh yang menggunakan otot besar ataupun sebagian besar anggota tubuh yang dipengaruhi oleh kematangan anak atau peserta didik. Sedangkan motorik halus ialah gerakan halus yang melibatkan bagian-bagian tertentu saja yang dilakukan oleh otot-otot kecil saja, karena tidak memerlukan tenaga. Namun begitu gerakan yang halus ini memerlukan koordinasi yang cermat. Semakin baiknya gerakan motorik halus membuat anak dapat berkreasi, seperti menggunting kertas dengan hasil guntingan yang lurus, menggambar gambar sederhana dan mewarnai, menggunakan kilp untuk menyatukan dua lembar kertas, menjahit, menganyam kertas serta menajamkan pensil dengan rautan pensil. Namun, tidak semua anak memiliki kematangan untuk menguasai kemampuan ini pada tahap yang sama.[8]

Dalam hal ini, ketika kita mempelajari kecerdasan kinestetik terdapat suatu proses dalam mengenal proses kecerdasan dalam diri seorang anak maupun peserta didik, berikut contoh proses kerja kecerdasan kinestetik:

Dengan demikian, anak atau peserta didik diharapkan menangkap informasi yang masuk, sebagai contoh terdapat kelereng yang jatuh dari sendok, kemudian informasi tersebut disampaikan ke orak lalu ke tangan, lalu tangan mencoba untuk mengambil kelereng tersebut dan ditaruh ke sendok, semua hal tersebut dijawab oleh otak.[9]

Selain itu, terdapat cara mengembangkan kecerdasan kinestetik pada Anak Usia Dini, yaitu:[10]

Kemampuan koordinasi tubuh

Keseimbangan tubuh

Kekuatan fisik

Kelenturan tubuh

Kecepatan dan ketangkasan gerak

Daya tahan

Kepekaan sentuhan

Bersepeda dengan penghalang

Berdiri diatas kaleng

Panjat tali

Demonstrasi tubuh

Halus – kasar

Menangkap dan memantul bola

Berdiri satu kaki

Mencocok gambar

Meniti titian tali

Menirukan gerak

tangkis tangan

Basah – kering

Lomba mengancingkan

Membawa kelereng

Menebalkan dan menyalin

Menciptakan dan meluweskan gerak

Panas - dingin

Jalan jongkok

Dari pemaparan diatas maka dapat disimpulkan bahwa keberhasilan dalam mengembangkan kecerdasan kinestetik dapat berimbas pada tumbuh dan berkembangnya minat serta bakat peserta didik untuk menjadi tenaga terampil serta professional terutama dalam mengemban tugas serta karier seeperti actor, penari, guru dansa, pelatih, interpreter bahasa isyarat, ahli bahasa tubuh, ahli bedah, atlet professional, pengukir, ahli terapi fisik, pemain pantomime serta guru pendidikan fisika.[11]

Setiap anak memiliki kecerdasan kinestetik yang berbeda-beda, anak yang memiliki kecerdasan memiliki ciri tertentu, walaupun tidak semua anak memiliki ciri kecerdasan kinestetik yang nampak, pada umumnya anak yang memiliki kecerdasan kinestetik akan menunjukkan beberapa hal seperti memiliki kebutuhan untuk bergerak dan melakukan aktifitas, memiliki memori fisik yang hebat, nampak berbakat pada bidang olahraga, menari, serta aktifitas fisik lainnya, memiliki gerakan yang terkoordinasi, memiliki naluri yang bagus tentang gerakan tubuh, cepat kehilangan minat terhadap suatu hal, kesulitan dalam memahami prosedur atau langkah-langkah dari suatu kegiatan dan mudah teralihkan oleh lingkungannya. Secara artistik mereka memiliki kemampuan menari dan menggerakan tubuh mereka dengan luwes dan lentur, cenderung suka bergerak, tidak bisa duduk diam berlama-lama, mengetuk-ngetuk sesuatu, dan suka meniru gerak atau tingkah laku yang menarik perhatiannya

Kemampuan dalam kecerdasan kinestetik akan berkembang pesat apabila orang tua mampu mengenali secara sederhana dengan beberapa ciri yang ditunjukkan anak, kebanyakan orang tua merasa kewalahan dengan tingkah laku anak yang aktif, terlebih jika ada orang luar yang awam maka langsung menyatakan anak tersebut hiperaktif, dalam hal ini, janganlah terburu-buru memberi label pada anak yang tidak bisa diam sebagai anak yang hiperaktif, karena untuk mecapai diagnosa tersebut dibutuhkan perjalanan yang sangat panjang dengan melalui konsultasi dengan psikolog anak yang kompeten.

Jika memiliki anak yang aktif dalam bergerak maka jangan terburu-buru memarahinya karena ia tampak tidak tenang, bisa jadi anak memiliki kecerdasan kinestetik yang tinggi, anak dengan kecerdasan kinestetik memiliki kebutuhan untuk menyalurkan keinginannya bergerak dengan benar dan lebih banyak daripada anak lainnya.[12]


[1]Siti Syamsiah,Meningkatkan Kecerdasan Kinestetik Melalui Games Ball (Permainan Bola) Pada Anak Kelompok Bermain Masjid Syuhada,(Yogyakarta, Universitas Negeri Yogyakarta, 2014),hlm. 3

[2]Rina Roudhotul Jannah,144 Strategi Pembelajaran Anak Usia Dini Berbasis Multiple Intelligences,(Yogyakarta: Ar-ruz Media, 2018), hlm. 267

[3]Uno Hamzah,Mengelola Kecerdasan Dalam Pembelajaran Edisi 2(Bandung: Bumi Aksara, 2009), hlm. 16

[4]Suyadi,Teori Pembelajaran Anak Usia Dini (Dalam Kajian Neurosains)(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2014), hlm. 132

[5]Einon,Kecerdasan Anak Usia Dini(Bandung: Kaifa, 2010), hlm. 12

[6]Tadkiroatun Musfiroh,Pengembangan Kecerdasan Majemuk(Jakarta: Universitas Terbuka, 2010), hlm. 63

[7]Mulyasa,Manajemen Paud,(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012), hlm. 58

[8]Yusuf Khu,Perkembangan Individu(Bandung: Pustaka Hidayah, 2002), hlm. 24

[9]Muhammad Uhyi Faruq,1000 permainan Kecerdasan Kinestetik(Jakarta: Grasindo, 2007), hlm. 3

[10]Rina Roudhotul Jannah,144 Strategi Pembelajaran Anak Usia Dini Berbasis Multiple Intelligences,(Yogyakarta: Ar-ruz Media, 2018), hlm. 273

[11]Muh. Yaumi,Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences(Jakarta: Dian Rakyat, 2012), hlm. 107

[12]Dian Dwi Amalia, Ayi Sobarna, dan Dinar Nur Inten,Pengembangan Kecerdasan Kinestetik Anak Usia Dini melalui Pembelajaran Seni Tari di Kelompok B,Prosiding Pendidikan Guru PAUD ISSN : 2460 Volume 4, No. 2, Tahun 2018, hlm. 172