PENDIDIKAN SEJAK DINI (Fondasi Sejati Generasi Emas 2045)
Rektor bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Wakil Rektor, Dekan FITK dan Nara Sumber
PENDIDIKAN SEJAK DINI
(Fondasi Sejati Generasi Emas 2045)
Menyiapkan Generasi Emas Indonesia tahun 2045 tidak dapat kita tunda hingga anak memasuki gerbang sekolah. Bangsa yang bermartabat, cerdas, dan berakhlak sesungguhnya meletakkan fondasinya pada masa paling awal kehidupan seseorang — saat anak mulai mengenal dirinya, membangun rasa aman, serta menumbuhkan kepercayaan kepada dunia di sekitarnya. Pendidikan Islam Anak Usia Dini bukan sekadar jenjang persiapan menuju tingkatan pendidikan berikutnya, melainkan ruang paling strategis untuk membangun dasar kemanusiaan yang utuh dan kokoh.
Hal ini bukan tanpa alasan. Apa yang tertanam pada masa awal tumbuh kembang akan mewarnai cara seseorang berpikir, bersikap, dan bertindak sepanjang hidupnya. Jika masa tersebut terabaikan atau diarahkan secara keliru, tidak ada sistem pendidikan di masa mendatang yang sepenuhnya mampu memperbaikinya. Membangun generasi yang tangguh, berkarakter, dan memiliki jiwa nasionalisme yang kuat memerlukan keterlibatan menyeluruh: tidak hanya lewat pengajaran di ruang kelas, melainkan melalui pengasuhan yang penuh kasih, perlindungan yang sungguh-sungguh, pemenuhan gizi yang memadai, serta lingkungan yang aman dan mendukung. Tanpa kerja sama lintas pihak, cita-cita luhur tersebut hanya akan menjadi impian yang terus tertunda.
Kenyataan ini ditegaskan dalam Seminar Nasional bertema “Transformasi Pendidikan Islam Anak Usia Dini Menuju Generasi Emas 2045” yang diselenggarakan Program Magister PIAUD UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada Jumat, 25 September 2026. Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Noorhaidi Hasan, mengingatkan bahwa masih banyak anak di negeri ini yang harus berhadapan dengan kemiskinan, terpaksa bekerja membantu keluarga, menikah di usia dini, hingga menjadi korban kekerasan — persoalan yang perlahan menghapus masa kanak-kanak mereka sendiri. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifatul Choiri Fauzi, menegaskan bahwa masa depan bangsa bergantung sepenuhnya pada cara kita mendidik, mengasuh, dan melindungi anak-anak hari ini, serta mendorong setiap pendidik hadir bukan sekadar sebagai pengajar, melainkan sebagai sahabat dan pendamping. Sementara itu, Guru Besar Psikologi Pendidikan Prof. Suyadi mengingatkan bahwa keberhasilan tidak diukur semata dari perolehan prestasi akademik, melainkan dari ketahanan jiwa yang dibangun melalui relasi yang hangat, bebas dari tekanan, serta bebas dari perbandingan yang tidak perlu. Senada dengan hal itu, Dr. Luluk Elyana menekankan perlunya kurikulum yang menyatukan pendidikan, pengasuhan, kesehatan, dan perlindungan secara menyeluruh agar anak berkembang secara utuh sebagai manusia.
Oleh karena itu, sudah saatnya kita memandang pendidikan anak usia dini sebagai urusan bersama, bukan beban satu pihak saja. Pemerintah, perguruan tinggi, pendidik, keluarga, dan seluruh masyarakat harus berjalan beriringan memastikan setiap anak tumbuh dalam lingkungan yang aman, disayang, serta dibimbing dengan nilai agama dan akhlak yang luhur. Generasi Emas tahun 2045 tidak akan datang dengan sendirinya; ia sedang dibentuk hari ini, dari anak-anak yang tumbuh sehat, tenang, dan berkarakter di tengah-tengah kita.